M. MAGHFUR QUMAIDI

Lahir di kabupaten kediri pada tangga 20 Agustus 1975, pendidikan mulai dari SD sampai Madrasah Aliah di tempuh di kota kelahiran, tepatnya SDN keling 1, MTsN M...

Selengkapnya
INGIN TAHU NIKMATNYA LEBARAN, AYOO MUDIK.
https://www.google.co.id/search?q=GAMBAR+MUDIK&rlz

INGIN TAHU NIKMATNYA LEBARAN, AYOO MUDIK.

Mudik bagi masyarakat Indonesia bukanlah suatu hal yang baru, karena sejak zaman kerajaan Mojopahid istilah tersebut telah ada, namun budaya itu mulai berkembang lagi pada tahun 1970 an. Istilah mudik pada awalnya digunakan oleh para perantau yang berada di kota Jakarta yang ingin pulang untuk menjenguk keluarganya. Namun dalam perkembanganya mudik mengalami pergeseran istilah, yakni setiap orang yang berada diluar kota atau daerah yang kembali ketanah kelahiranya, sehingga mudik tak lagi milik perantau Jakarta.

Hampir setiap tahun mudik menjadi pembahasan yang hangat bagi masyarakat kita, mulai dari masyarakat awam sampai pejabat pemerintah. Aparat pemerintah beserta jajaranya telah sibuk mengatur ke-“mudik”-an, seperti menyiapkan transportasi pulang kampung, mengatur jalan agar tidak terjadi kemacetan, penyiapan pos-pos pantau di jalan –jalan, dan mungkin masih banyak lagi yang telah dilakukan untuk mengatur ke-“mudik”-an masyarakat dengan harapan mereka selamat sampai dikampung halamanya masing-masing. Selain itu pemerintah juga melakukan berbagai macam kebijakan agar kebutuhan pangan mereka tercukupi, sepeti pemantauan terhadap kesediaan beras, sayur, daging dan lain-lain.

Terlepas dari peran pengambil kebijakan diatas, bagi masyarakat mudik adalah aktivitas yang diharapkan oleh keluarganya di kampung halamanya. Bagi orang kampung khususnya orang tua yang anaknya tinggal diluar kota atau daerah akan selalu ditanya kapan pulang. Pertanyaan tersebut menunjukan bahwa kepulangan anak-anak kerumah induk sepertinya menjadi suatu hal yang wajib, meskipun anak-anak mereka telah mempunyai tempat tinggal yang tetap dan mungkin telah sukses diluar kota atau daerah lain. Bagi orang tua anak-anak mereka tetap dianggap sebagai perantau, karena tradisi lama anak selalu tinggal bersama orang tuanya dikampung yang sama atau istilahnya “mangan ora mangan nek kumpul” artinya makan atau tidak makan asal kumpul, melihat istilah itu berati mudik merupakan kuwajiban.

Dalam berbagai kesempatan selalu dibahas bahwa mudik itu hanya ada dalam masyarakat kita, dan tidak dikenal dinegara-negara lain, termasuk di Negara Arab saudi sekalipun sebagai negara asal usul Islam. Tradisi mudik merupakan khas bangsa kita, budaya ini tidak bisa disandingkan atau dibandingkan dengan budaya manapun. Meski ada yang berpendapat mudik adalah penyebab kemacetan dan menimbulkan berbagai masalah lain, namun hingga kini mudik tetap menjadi perjalanan yang difavoritkan, bagi mereka macet tetap menyenangkan dan di terjang dengan gembira, karena kebahagiaan bertemu dengan keluarga besar tidak pernah dapat ditandingi oleh apapun. Ada juga yang berpendapat mudik tidak harus pada waktu lebaran, karena menimbulkan masalah baru. Alasan orang kampung untuk mudik itu cukup sederhana yaitu “ngiras-ngirus” artinya sekalian pulang beberapa tujuan tercapai. Pertama momen Idhul Fitri merupakan momen untuk saling memaafkan, bersamaan dengan itu keluarga telah menyediakan waktu untuk saling berkunjung, dan yang paling penting ibarat mesin yang telah bekerja setahun dihentikan sejenak untuk pendinginan. “Selamat bermudik ria, hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan, keluarga dikampung menunggumu”.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Ke kampung halaman istri pak.. probolinggo. wah ... panjengan tidak pernah merasakan nikmat dan dukanya mudik..

14 Jun
Balas

Wah pak Maghfur mudik ke mana pak? Saya belum pernah mudik pak, lha wong istri satu kampung, mudiknya cukup jalan kaki he hehe

14 Jun
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali